Saturday, September 24, 2011

Kopi bukan penyebab hipertensi

Kopi sering jadi musuh bagi orang-orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi, termasuk penyakit jantung dan stroke. Namun, sebuah penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa tidak ada bukti kopi dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.

American Journal of Clinical Nutrition dalam jurnalnya melaporkan hasil penelitian setelah menggabungkan dengan studi sebelumnya, yang meneliti dengan responden 170.000 orang. "Kebiasaan minum kopi 3 cangkir sehari tidak ada kaitannya dengan peningkatan risiko hipertensi," kata Liwey Chen, peneliti dari Kesehatan Masyarakat Universitas Louisiana di New Orleans.

Tapi ini bukan berarti bahwa minum banyak kopi tidak memiliki risiko sama sekali. Risiko hipertensi bagi mereka yang minum 3 cangkir kopi sehari tentunya sedikit berbeda dari mereka yang minum kurang dari 3 cangkir.

"Menurut saya, kopi tidak menimbulkan risiko tekanan darah tinggi," kata Lawrence Krakoff, peneliti dari Mount Sinai Medical Center, New York.

Menurut Krakoff, hubungan antara kopi dan tekanan darah tinggi memang sulit untuk dijelaskan. Maka, efeknya pasti berbeda pada setiap orang. Latar belakang genetik juga bisa menentukan bagaimana reaksi orang terhadap kopi. Minum kopi dalam jumlah besar mungkin aman bagi seseorang. Tetapi justru bisa berbahaya bagi orang lain.

Sumber : Yahoo.com

Kopi Radix adalah kopi yang diracik dari beberapa herbal pilihan untuk membantu meningkatkan kesehatan Anda. Rasakan. Minum Kopi Radix bukan sekedar minum kopi, tetapi memberikan nilai tambah bagi kesehatan Anda. 
Khasiat Kopi Radix :
  • Menambah stamina dan vitalitas tubuh
  • Memelihara kesehatan janntung dan pembuluh darah jantung
  • Mengefektifkan pembentukan sel darah merah
  • Meningkatkan gairah seksual dan meningkatkan kesuburan
  • Mengurangi kelelahan
  • Mengatasi depresi
  • Mencegah osteopoorosis
  • Membantu meringankan gangguan tidur

Cara Aman Konsumsi Obat Herbal

Konsumsi obat-obatan herbal tampaknya kian populer di tengah pengobatan modern. Dari ragam jenisnya, ada jamu, obat herbal terstandar, serta fitofarmaka yang dikembangkan dengan bantuan pengawasan dari pemerintah.

Jika dibandingkan dengan obat-obatan medis, cara kerja herbal memang lebih lambat. Jika hanya dikonsumsi sekali dua kali, belum tentu khasiatnya terasa. Minimal, obat-obatan herbal ini dikonsumsi selama satu minggu agar khasiatnya benar-benar terasa.

Meski khasiatnya bekerja lambat seorang Ahli Herbal dari Pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, APT, memastikan bahwa obat-obatan herbal cukup efektif menyembuhkan sakit tanpa efek samping yang berbahaya.

Namun, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan khasiat obat herbal ini berkurang jika penyimpanannya tidak benar. Usahakan, menyimpan obat-obatan herbal jauh dari pancaran sinar matahari dan tempat kering. Perhatikan pula batas kedaluarsanya.

“Jamu merupakan herbal sederhana yang banyak dikonsumsi masyarakat. Agar aman dan terhindar dari bahaya, usahakan membeli produk jamu tidak sembarangan,” katanya.

Pilih produk jamu yang memiliki nomor registrasi terdaftar di Badan POM. Tapi waspadalah karena banyak nomor pendaftaran yang dipalsukan. “Ingat, produk jamu belum pernah diuji secara praklinik, jadi hati-hati saat mengonsumi produk jamu kemasan,” katanya.

Sementara itu, untuk obat-obatan herbal terstandar, meski telah lulus uji praklinik pada hewan dan telah diuji keamanan toksisitasnya pada hewan, produk-produk ini belum pernah diuji langsung pada manusia. Untuk itu, akan lebih aman, jika Anda mengonsumsi obat herbal fitofarmaka, yang dijamin telah lulus uji praklinis dan sudah diuji pada manusia. Statusnyapun sudah sama seperti obat modern.

Lalu, bagaimana jika dikonsumsi bersamaan dengan obat medis atau obat sintetik?

Secara umum, obat-obatan herbal tidak memiliki efek samping, kecuali jika dikonsumsi bersamaan dengan obat modern atau obat-obatan yang mengandung bahan kimia sintetis. "Untuk itu, dianjurkan saat mengonsumsi obat herbal dengan obat sintetik diberi jeda waktu, tidak dikonsumsi secara berbarengan,” katanya.

Benarkah obat herbal seperti jamu bisa menyebabkan ginjal? “Bukan herbalnya yang tidak memenuhi syarat, bisa menyebabkan efek samping karena pengolahannya yang salah, ditambah dengan obat sintetik yang berlebihan, inilah yang bisa menimbulkan efek samping,” katanya.

Untuk itu, yang penting diperhatikan saat membeli produk herbal:

1. Harus dilihat apakah sudah terdaftar di BPOM dengan ciri adanya logo jamu dengan nomor pendaftaran yang tertera pada kemasan

2. Lihat kondisi kemasan, jika terlihat mencurigakan, misalnya ada kesalahan cetak dalam kemasan, Anda perlu curiga. Lihat pula isi kemasan di dalamnya, usahakan segel kemasan tertutup rapat
 
3. Jangan membeli produk herbal sembarangan, dan jangan terlalu cepat percaya pada produk herbal yang bisa dengan cepat memberikan khasiat. Usahakan membeli produk herbal di toko obat resmi atau apotek.

Sumber : vivanews.com

Friday, September 23, 2011

Obat Herbal Kurang Cespleng, Benarkah?

Mendengar kata herbal, apa yang terlintas di benak Anda? Kendati masyarakat telah turun-temurun memanfaatkannya dalam pengobatan, herbal tetap saja lebih inferior ketimbang obat konvensional. Betulkah ia kurang cespleng?

Menjawab pertanyaan tersebut, ahli herbal, Dr dr Amarullah H Siregar FBIHom DIHom DNMed menyodorkan sejumlah argumentasi ilmiah. Belajar naturopati di Inggris dan Amerika, ia mendapati banyak sekali daun, akar, ataupun benalu tumbuhan yang berkhasiat obat. "Di lain sisi, seperti yang diumumkan WHO pada awal 2006 lalu, 1035 obat yang telah disetujui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat sepanjang tahun 1989 sampai 2000, tiga perempatnya ternyata tak memiliki makna mengobati."

Di Indonesia, obat dari bahan alami mayoritas masih masuk dalam kelas jamu dan obat herbal terstandar. Baru lima saja yang telah berada di golongan fitofarmaka terbukti memiliki khasiat serupa obat konvensional. "Padahal, hampir semua obat bisa disubstitusi dengan bahan alami," komentar dokter yang mendalami naturopati ini.

Sebut saja, antibiotik. Sesuai namanya, antibiotik berarti antibiota. "Saat dikonsumsi, bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan juga ikut terbunuh," ungkap Amarullah dalam Media Discussion Sehat dengan Herbal yang digelar Deltomed, Rabu (19/5) lalu, di Jakarta.

Ini berarti penggunaan antibiotik malah memunculkan masalah kesehatan yang baru. Orang yang mendapatkan antibiotik jangka panjang otomatis membutuhkan suplemen yang dapat menyuburkan kembali populasi bakteri sahabat saluran cerna. "Kalau ditunggu, ia baru bisa mencapai jumlah yang cukup setelah 48 sampai 54 hari kemudian," kata Amarullah yang juga konsultan homeopathic medicine.

Lalu, sekarang, mari simak bagaimana meniran menjalankan perannya sebagai antibiotik alami. Amarullah menuturkan, meniran pintar mengenali sumber masalah. "Hanya bakteri jahat saja yang ditumpasnya."

Namun, sebetulnya, bukan bahan aktif meniran yang berperang secara langsung. Meniran justru mendorong tubuh untuk bisa menyembuhkan diri sendiri. "Meniran mengaktifkan produksi kelenjar timus di paru-paru dan meningkatkan pasokan sel limfosit T yang berkaitan dengan ketangguhan imunitas hingga mampu mematikan bakteri jahat di tubuh," urai dokter naturopati jebolan Clayton College of Natural Health, Birmingham, Amerika Serikat.

Begitu keluhan hilang, konsumsi meniran bisa dihentikan. Tidak seperti antibiotik konvensional yang memang harus diminum sampai habis sesuai jumlah dan dosis yang diresepkan. "Obat herbal andaikan tak dibutuhkan tubuh akan langsung keluar melalui urine, tidak akan menumpuk di dalam tubuh," urai dokter yang memiliki klinik di Ragunan, Jakarta Selatan, ini.

Lebih lanjut, Amarullah mengajak masyarakat agar mengubah paradigmanya. Berobat bukan cuma menghilangkan gejala yang dikeluhkan. "Carilah kesembuhan dengan melacak akar penyakitnya." Amarullah mencontohkan kasus darah tinggi. Tak bijak jika penyakit ini cuma diredakan atau distabilkan dengan obat. "Akar penyakitnya ada di ginjal dan organ itulah yang mesti dikembalikan vitalitasnya."

Persoalannya, spesialis jantung dan kardiovaskular bukan dokter ginjal. Pasien harus ke dokter lain untuk mendapatkan pengobatan. "Sementara itu, dalam naturopati, ilmu kedokteran ini memperlakukan tubuh manusia sebagai satu kesatuan hingga tidak luput merevitalisasi ginjal pasien darah tinggi," kata Amarullah yang dipercaya menyusun kurikulum mata kuliah naturopati di Indonesia.

Obat herbal, lanjut Amarullah, tersedia juga untuk kondisi akut. Contohnya, obat batuk, pilek, serta radang tenggorokan pada anak. "Sudah tersedia dalam bentuk sirup dengan isi ekstrak jahe, cengkeh, lengkuas, kapulaga, dan kunyit yang berefek antiradang lalu dipermanis dengan madu atau gula aren."

Seiring dengan meredanya batuk, pilek, serta radang tenggorokan, Amarullah mengimbau agar sistem imunitas diperkuat. Untuk itu, antibodi harus digenjot. "Bisa dengan mengonsumsi meniran." Untuk pencegahan serangan batuk pilek berulang, Amarullah memberikan tips sederhana.
Minum saja bandrek. "Bisa juga dengan mencampur setengah serbuk bandrek dengan jahe plus lengkuas ketika terasa suara mulai parau dan bindeng."

Republika.co.id

Wednesday, September 21, 2011

Penelitian : Kopi Kurangi Risiko Kanker Kulit

Sebuah penelitian di Amerika Serikat, kopi menunjukkan tanda dapat mengurangi resiko kanker kulit dengan membantu membunuh sel-sel yang rusak yang berpeluang dapat berubah menjadi tumor.

Temuan yang diterbitkan pada Senin itu, menunjukkan bahwa minum kafein secara wajar, atau bahkan menggunakan kopi di kulit, dapat berguna dalam menangkal kanker non-melanoma, diagnosis kanker kulit yang paling sering.

Dengan menggunakan tikus yang secara genetik telah dipengaruhi untuk menekan produksi enzim protein, ATR, dalam tubuhnya, para peneliti membuktikan bahwa tikus itu mampu menangkis kanker bahkan bila terkena sinar ultraviolet.

Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa minum sekitar satu cangkir kopi berkafein per hari memiliki efek menekan ATR dan memicu kematian sel yang rusak oleh sinar UV.

Tikus itu pada akhirnya menderita kanker, namun itu terjadi setelah tiga pekan, dibandingkan dengan tikus yang normal, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Laporan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional.

Setelah 19 pekan terpapar sinar ultraviolet, tikus yang direkayasa itu menunjukkan 69 persen lebih sedikit tumor dan empat kali lebih sedikit tumor invasif dibandingkan kelompok normal.

Namun, efek perlindungan hanya selama itu, setelah lebih dari 34 pekan terpapar sinar ultra violet, seluruh tikus menderita tumor.

“Akhirnya, jika anda memamar mereka dengan sinar ultra violet cukup lama, semua tikus akan menderita kanker sehingga hal itu tidak 100 persen memberikan perlindungan selamanya,” kata Allan Conney, salah satu penulis, kepada AFP.

“Sungguh, dengan hampir semua jenis karsinogen, pada akhirnya semua hewan akan menderita tumor,” kata Conney, yang merupakan direktur dari Laboratorium Penelitian Kanker Susan Lehman Cullman di Universitas Rutgers, New Jersey.

Conney dan timnya mampu mengkonfirmasi hipotesis mereka bahwa kafein -ketika dikonsumsi atau dioleskan pada kulit - bekerja dengan cara menghambat ATR. Sekarang mereka mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat bagaimana teori yang sama mungkin dapat juga bekerja pada manusia.

“Kami ingin melihat apakah kafein memiliki efek pada manusia bila diberikan secara berkala,” katanya.

“Kafein mungkin menjadi senjata dalam pencegahan karena mampu menghambat ATR dan juga bertindak sebagai tabir surya serta langsung menyerap sinar UV yang merusak.”

Kanker kulit adalah kanker paling umum di Amerika Serikat, dengan lebih dari satu juta kasus baru setiap tahun, menurut Institut Kanker Nasional.

Kanker kulit jenis non-melanoma, termasuk jenis sel basal dan sel skuamosa, adalah jenis kanker kulit yang paling sering didiagnosis dan sering dapat diobati jika terdeteksi di tahap awal.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan peminum kopi cenderung memiliki resiko lebih rendah menderita kanker payudara, rahim, prostat dan usus besar, namun efek yang bermanfaat tidak terlihat pada orang yang minum kopi tanpa kafein.

Sumber : Zonaberita.com

Wednesday, September 14, 2011

Buktikan anda tidak terkena diabetes

Diabetes sering dikenal dengan istilah "kencing manis". Hal ini ada benarnya, karena salah satu pengujian sederhana adalah meletakkan urine (air kencing) anda yang telah diwadahi di dekat sarang semut. Jika urine dikerumuni semut itu berarti anda terkena diabetes. 

Apa itu Diabetes?
Diabetes adalah meningkatnya kadar gula dalam darah di atas ambang normal (hiperglikemia). Secara normal kadar gula darah dapat dikontrol secara ketat oleh insulin, yaitu hormon yang diproduksi oleh pankreas. Insulin inilah yang mengikat gula dalam makanan sehingga dapat diserap dan menjadi energi bagi tubuh. Jika hormon ini terganggu maka gula tidak dapat diserap dan akan tertimbun dalam darah.

Diabetes di Indonesia
Angka pengidap diabetes di Indonesia menurut WHO pada tahun 2009 mencapai 8 juta jiwa dan diprediksikan akan mengalami peningkatan menjadi lebih dari 21 jiwa pada tahun 2025. Oleh karenanya Indonesia menempati peringkat empat negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Sedangkan di Jakarta saja 1 dari 8 orang mengidap diabetes. Angka tersebut sudah termasuk pria maupun wanita, tua dan muda yang memiliki tingkat resiko yang sama.

Gejala Diabetes
Jika anda mengalami hal seperti sering buang air kecil, merasa sering kehausan, sering lapar serta sering mengalami kelelahan, maka jangan dianggap sepele. Periksalah segera kadar gula darah anda untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukan gejala gula darah. Jika ternyata anda mengidap diabetes maka terapkan pola hidup sehat. Kurangi makanan berkarbohidrat tinggi seperti nasi, sering berolah raga, makan sayur dan buah-buahan, kurangi pemakaian gula atau makanan dan minuman yang mengandung gula.

Apa dampak dari Diabetes?
Seiring berjalannya waktu, diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh anda. Jenis kerusakan adalah akibat kerusakan pembuluh-pembuluh kecil, disebut sebagai penyakit mikrovaskuler. Kerusakan tersebut dapat berakibat Kebutaan, gagal ginjal dan saraf. Jenis kerusakan lain adalah pengerasan dan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), yang menyebabkan stroke, penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah besar lainnya. Ini disebut sebagai penyakit makrovaskular.

Bagaimana mencegah dan mengobatinya?
Untuk mencegah diabetes maka sangat penting mengendalikan kadar gula dalam darah dengan cara :
  • Menurunkan berat badan
  • Menghindari makanan berlemak
  • Kurangi makanan manis atau yang berkalori tinggi
  • Minum air yang banyak
  • Berolah raga secara teratur
  • Hindari stress
  • Hindari minuman beralkohol dan softdrink
  • Hindari merokok
  • Minum obat yang dianjurkan dokter atau minum obat herbal yang tepat.
Nirdiab Mengandung dua bahan herbal aktif untuk menurunkan kadar gula dalam darah yaitu :

Adrographis paniculata, mengandung zat andrografolida dan senyawa diterpenoid lakton lainnya yang dapat menurunkan kadar glukose darah dan telah diujicobakan terbukti mencegah terjadinya hiperglikemia (kadar glukose darah yang tinggi).

Morinda citrifolia, mengandung bahan alkaloid dan skopoletin yang terbukti dan dapat menurunkan kadara glukose darah.